Dexamethasone: Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

Dexamethasone: Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

ITentix Copywriter

Jan 5, 2026

Hallo, guys! Pernah nggak sih kalian dengar atau bahkan pernah diresepkan dexamethasone? Ini lho, salah satu obat yang paling sering muncul di dunia medis. Saking seringnya dipakai, ia bahkan dijuluki sebagai obat "sakti" karena manfaatnya yang bejibun.

Bagi sebagian orang, dexamethasone adalah penyelamat yang cepat meredakan gejala. Namun, bagi yang lain, obat ini mungkin menimbulkan kekhawatiran karena reputasinya sebagai obat "keras."

Nah, tujuan artikel super panjang ini adalah menghilangkan kebingungan itu. Kita akan membahas secara rinci dan santai tentang dexamethasone obat apa?, seberapa besar manfaat dexamethasone bagi kesehatan, bagaimana penentuan dosis dexamethasone yang aman, dan apa saja efek samping dexamethasone yang harus kita waspadai.

Dexamethasone Obat Apa?

Dexamethasone Obat Apa

Banyak sekali yang bertanya-tanya, dexamethasone obat apa ya? Jawabannya ini adalah obat penting dari keluarga besar obat yang disebut kortikosteroid. Penting untuk dicatat bahwa kortikosteroid ini bukan steroid anabolik (yang sering disalahgunakan untuk membentuk otot), melainkan steroid glukokortikoid.

Glukokortikoid ini meniru kerja hormon alami tubuh, yaitu kortisol, yang diproduksi oleh kelenjar adrenal (terletak di atas ginjal). Kortisol ini adalah hormon vital yang membantu tubuh mengatasi stres, mengatur metabolisme, dan yang paling penting, mengendalikan peradangan.

Jadi singkatnya dexamethasone itu adalah obat anti radang yang sangat kuat yang sering digunakan untuk meredakan pembengkakan, alergi parah, dan berbagai kondisi peradangan lainnya.

Ada banyak obat yang tergolong obat kortikosteroid, seperti salah satunya methylprednisolone. Tapi ada hal yang lebih istimewa dari obat-obat kortikosteroid lainnya.

Dimana dexamethasone dikenal sebagai kortikosteroid yang memiliki potensi anti-inflamasi yang sangat kuat dan durasi kerja yang panjang.

Potensi dari obat anti radang dexamethasone ini diperkirakan 25 hingga 30 kali lebih kuat daripada hydrocortisone, dan sekitar 5 sampai 7 kali lebih kuat dari prednisone. Ini menjadikannya pilihan utama untuk kondisi peradangan atau alergi yang sangat parah.

Obat dexamethasone juga mempunyai aksi mineralokortikoid rendah. Dimana ini keuntungan besar dari obat dexamethasone. Aksi mineralokortikoid adalah kemampuan obat untuk menahan garam dan air dalam tubuh (seperti hormon Aldosteron).

Karena aksi mineralokortikoid dexamethasone sangat rendah, ia jarang menyebabkan retensi cairan (bengkak) dibandingkan kortikosteroid lain seperti Hydrocortisone, menjadikannya pilihan yang lebih baik untuk pasien tertentu.

Jadi, ketika bicara tentang dexamethasone obat apa, kita sedang membicarakan superstar dalam menekan peradangan akut dan kronis. Kekuatan dan daya tahannya menentukan bagaimana penentuan dosis dexamethasone akan dilakukan oleh dokter.

Manfaat Dexamethasone

Manfaat dari obat dexamethasone ini sangat lah luas. Mulai mengobati ruam kulit sampai menyelamatkan nyawa di unit perawatan intensif. Hampir tidak ada bidang medis yang tidak menggunakan obat dexamethasone ini. Kita akan membaginya menjadi beberapa kategori utama:

Kekuatan Anti Inflamasi dan Anti Alergi

Kekuatan Anti Inflamasi Dexamethasone

Dexamethasone dikenal luas karena kekuatan anti inflamasi dan anti alergi yang luar biasa, menjadikannya obat ini penting dalam mengatasi berbagai kondisi medis. Fungsi vital ini berasal dari kemampuannya untuk menekan respons sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif, yang sering kali bermanifestasi sebagai peradangan yang tidak terkontrol.

Dengan bekerja pada tingkat sel, deksametason secara efektif mengurangi pembengkakan, kemerahan, rasa sakit, dan gejala lain yang terkait dengan inflamasi yang merupakan akar dari banyak penyakit, mulai dari radang sendi, asma, hingga alergi parah.

Kemampuan untuk meredam reaksi berlebihan ini memungkinkan tubuh untuk pulih dan mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut yang disebabkan oleh proses peradangan kronis atau akut.

Berikut contoh inflamasi dan alergi yang terapinya menggunakan dexamethasone:

Reaksi Alergi dan Anafilaksis

Untuk reaksi alergi berat seperti edema laring, angioedema, atau anafilaksis, dexamethasone diberikan, seringkali dalam bentuk suntikan, untuk meredakan pembengkakan dan peradangan yang dapat menghambat pernapasan. Manfaat dexamethasone di sini adalah bertindak cepat untuk menstabilkan pasien.

Penyakit Pernapasan

Pada kasus Asma akut, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) yang memburuk, atau Croup pada anak, dexamethasone mengurangi peradangan di saluran udara sehingga pasien bisa bernapas lebih lega.

Penyakit Kulit

Kondisi peradangan kulit parah seperti Psoriasis, Dermatitis kontak parah, atau Eksim yang luas sering memerlukan dexamethasone topikal atau salep dan sistemik atau tablet untuk mengendalikan respons peradangan.

Mengendalikan Penyakit Autoimun

Peran deksametason sebagai penekan imun (imunosupresan) menjadi sangat krusial dalam pengobatan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali sel dan jaringan tubuh yang sehat sebagai ancaman, lalu melancarkan serangan terhadapnya.

Serangan yang tidak tepat ini menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jaringan yang signifikan seperti pada lupus, rheumatoid arthritis, atau multiple sclerosis.

Dexamethasone bersinar di sini karena ia memiliki kemampuan kuat untuk menenangkan dan menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh yang hiperaktif tersebut. Dengan menekan respons imun yang agresif, dexamethasone dapat secara efektif mengurangi tingkat keparahan gejala, mengendalikan flare-up penyakit, dan meminimalkan kerusakan permanen pada organ atau jaringan yang ditargetkan oleh tubuh itu sendiri.

Kerja dexamethasone dalam beberapa penyakit autoimun sebagai berikut:

Lupus Eritematosus Sistemik (SLE)

Edema Serebral

Penyakit ini adalah penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel dan jaringan sehatnya sendiri, menyebabkan peradangan pada berbagai organ seperti kulit, sendi, ginjal, jantung, paru-paru, dan otak. Dexamethasone menekan aktivitas penyakit dan mencegah kerusakan organ.

Arthritis Rheumatoid (RA)

Obat ini mengurangi nyeri sendi, kekakuan, dan pembengkakan. Penggunaan obat dexamethasone ini biasanya sebagai terapi jembatan sebelum obat jangka panjang lainnya bekerja.

Vaskulitis

Peradangan pada pembuluh darah. Dexamethasone sering digunakan untuk mengendalikan peradangan yang mengancam organ.

Peran Kritis dalam Onkologi dan Neurologi

Berikut beberapa manfaat dari dexamethasone yang paling dramatis terlihat dalam pengaturan perawatan kritis:

Edema Serebral (Pembengkakan Otak)

Tumor otak, operasi, atau radiasi sering menyebabkan pembengkakan di sekitar lesi (perubahan abnormal pada jaringan tubuh).

Dexamethasone secara ajaib mengurangi pembengkakan ini, meredakan sakit kepala parah, dan bahkan menyelamatkan fungsi neurologis. Tanpa dexamethasone, beberapa kondisi ini bisa berakibat fatal.

Pengobatan Kanker

Dalam terapi kanker, dexamethasone sering digunakan untuk mengurangi mual dan muntah yang diinduksi oleh kemoterapi, mengobati reaksi alergi yang mungkin disebabkan oleh obat kemoterapi dan sebagai bagian dari protokol pengobatan untuk jenis kanker darah tertentu (misalnya, Multiple Myeloma).

Dosis Dexamethasone

Dosis Dexamethasone

Penentuan dosis dexamethasone harus selalu dilakukan oleh profesional medis. Karena obat ini sangat kuat, dokter harus menyeimbangkan antara mencapai efek terapi yang diinginkan dengan meminimalkan potensi efek samping dexamethasone.

Dalam penggunaannya, dosis dexamethasone tidak sama setiap orangnya. Dosis harus diberikan dengan resep dokter dengan mempertimbangkan berbagai faktor-faktor dibawah ini, diantaranya:

Indikasi (Penyakit yang Diobati)

Seperti yang kita lihat di bagian manfaat dexamethasone, dosis untuk edema serebral (yang bisa 10 mg/hari atau lebih) jauh lebih tinggi daripada dosis untuk alergi ringan (yang mungkin hanya 0.5–1 mg/hari).

Rute Pemberian

Dexamethasone tersedia dalam berbagai bentuk:

  • Oral (Tablet atau Cair): Paling umum untuk pengobatan jangka panjang atau pengurangan dosis.
  • Injeksi (IV atau IM): Digunakan untuk kondisi akut atau darurat (misalnya, anafilaksis atau edema serebral akut), karena efeknya lebih cepat.
  • Topikal: Untuk penyakit kulit atau mata. Dosis dexamethasone topikal hampir tidak memiliki efek sistemik.

Berat Badan dan Usia

Terutama penting untuk pediatrik (anak-anak).

Respons Pasien

Dokter akan menyesuaikan dosis dexamethasone berdasarkan seberapa baik respons tubuh pasien dan toleransi terhadap obat tersebut.

Berikut tabel dosis umum pemakaian dexamethasone yang dikonsumsi (oral).

KondisiKelompok UsiaKondisi UmumCatatan Penting
Anti inflamasi dan Anti alergiDewasaDosis awal: 0,5–9 mg per hari, dibagi dalam 2–4 kali minum.Dosis disesuaikan berdasarkan respons pasien dan tingkat keparahan inflamasi atau alergi.
Penyakit AutoimunDewasaDosis awal: 0,5–9 mg per hari, dibagi dalam 2–4 kali minum.Dosis akan terus disesuaikan (dititrasi) berdasarkan respons tubuh pasien terhadap obat.
Anak-anakAnak-AnakDosis awal: 0,02–0,3 mg/kg BB per hari, dibagi dalam 3–4 kali minum.Dosis dihitung berdasarkan berat badan (kgBB) untuk memastikan ketepatan. Penggunaan jangka panjang pada anak harus dipantau ketat oleh dokter karena berpotensi mempengaruhi pertumbuhan.

Dalam dosis obat dexamethasone yang diberikan secara injeksi atau disuntikan, dosis sepenuhnya ditentukan oleh dokter. Pemberian injeksinya dapat melalui pembuluh darah untuk mengatasi kondisi inflamasi akut, edema serebral, atau sebagai bagian dari terapi onkologi. Untuk kasus radang sendi yang berat, obat dapat disuntikkan langsung ke dalam sendi (intra artikular).

Pada penyakit kronis seperti lupus, penggunaan dexamethasone harus dikelola karena pemakaiannya dalam waktu jangka panjang. Pasien mungkin perlu dosis pemeliharaan yang sangat rendah (misalnya, 0.5 mg atau 1 mg) setiap hari.

Dalam kasus ini, tujuan dosis dexamethasone adalah menjaga penyakit tetap tenang sambil meminimalkan efek samping dexamethasone jangka panjang. Pemantauan ketat oleh dokter adalah kunci keberhasilan terapi ini.

Tapering Off Dexamethasone

Obat dexamethasone dalam penggunaannya menggunakan konsep Tapering Off atau Penurunan Dosis Bertahap. Ini adalah bagian paling penting dari manajemen dosis dexamethasone, terutama setelah penggunaan lebih dari 7 sampai 10 hari.

Kenapa tapering off wajib? Jika seseorang mengonsumsi dexamethasone untuk waktu yang lama, kelenjar adrenal mereka akan berpikir, "Oh, sudah ada kortisol dalam jumlah besar dari obat, jadi aku tidak perlu bekerja keras lagi." Kelenjar adrenal akan atrofi (menyusut) dan berhenti memproduksi kortisol alami.

Menghentikan obat dexamethasone secara tiba-tiba akan membuat tubuh kekurangan hormon kortisol, yang dapat memicu kondisi berbahaya yang disebut Krisis Adrenal (Adrenal Insufficiency).

Dalam proses tapering off, dokter akan meresepkan penurunan dosis dexamethasone secara bertahap selama beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan. Proses ini memberi waktu bagi kelenjar adrenal untuk bangun dan mulai bekerja kembali.

Efek Samping Dexamethasone

Walaupun punya banyak sekali manfaat dexamethasone, tidak bisa dipungkiri dexamethasone mempunyai efek samping. Semakin tinggi dosis dexamethasone dan semakin lama durasi penggunaannya, semakin besar resikonya.

Mengedukasi diri tentang dexamethasone obat apa dan potensi resikonya adalah langkah awal untuk mitigasi diri dari efek yang ditimbulkan obat ini.

Efek Samping Jangka Pendek

Efek samping jangka pendek ini adalah efek yang paling sering dialami pasien terutama di awal pengobatan, seperti:

Insomnia (Sulit Tidur)

Efek Samping Dexamethasone

Dexamethasone bisa meningkatkan kewaspadaan. Sebaiknya hindari minum obat dexamethasone di malam hari jika memungkinkan.

Perubahan Mood

Pasien bisa merasa sangat gembira atau, sebaliknya, sangat mudah marah, cemas, atau bahkan mengalami psikosis (walaupun jarang).

Makan Banyak

Hampir semua pasien yang menggunakan dexamethasone melaporkan peningkatan nafsu makan yang signifikan. Ditambah juga dengan retensi (penahanan) cairan, seringkali menyebabkan kenaikan berat badan.

Gula Darah Naik

Dexamethasone adalah glukokortikoid, yang berarti ia meningkatkan kadar glukosa dalam darah (sering disebut steroid-induced diabetes). Ini adalah efek samping dexamethasone yang serius, terutama bagi penderita diabetes. Pemantauan gula darah wajib dilakukan.

Iritasi Lambung

Obat dexamethasone dapat mengiritasi lapisan perut. Dokter sering meresepkan obat pelindung lambung (seperti omeprazole atau ranitidine) bersama dengan dexamethasone.

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Efek Samping Dexamethasone

Retensi cairan dan efek pada pembuluh darah dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, yang harus dipantau.

Efek Samping Jangka Panjang

Ini adalah risiko yang paling dikhawatirkan ketika dosis dexamethasone tinggi digunakan selama berbulan-bulan. Efek sampingnya seperti:

Sindrom Cushing Latrogenik

Ini adalah tanda klasik dari paparan kortisol berlebihan (disebabkan oleh obat, atau iatrogenik). Gejalanya meliputi moon face (wajah jadi bulat), buffalo hump (penumpukan lemak di leher dan bahu), striae (muncul stretch mark) dan kulit menjadi tipis.

Osteoporosis

Osteoporosis

Ini adalah efek samping dexamethasone yang paling harus diwaspadai dalam jangka panjang. Dexamethasone menghambat pembentukan tulang baru dan mempercepat pemecahan tulang, menyebabkan osteoporosis (tulang keropos). Fraktur (patah tulang) patologis dapat terjadi bahkan karena cedera ringan.

Suplemen Kalsium dan Vitamin D, serta obat pencegah osteoporosis (seperti bifosfonat), sering diresepkan bersama dexamethasone jangka panjang.

Katarak Subkapsular Posterior dan Glaukoma

Penggunaan dexamethasone jangka panjang meningkatkan risiko serius seperti Katarak Subkapsular Posterior (kekeruhan lensa) dan Glaukoma (peningkatan tekanan mata, berpotensi merusak saraf optik). Oleh karena itu, pemeriksaan mata rutin wajib dilakukan bagi pasien yang menjalani terapi ini untuk deteksi dan pencegahan dini.

Penekanan Sistem Imun

Karena tujuan utama dexamethasone adalah menekan imun, efek sampingnya adalah peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Pasien yang memakai dosis dexamethasone tinggi harus sangat berhati-hati terhadap paparan penyakit menular, termasuk infeksi jamur yang biasanya tidak berbahaya bagi orang sehat.

Kelemahan Otot atau Myopathy

Salah satu efek samping yang dapat timbul dari penggunaan dexamethasone adalah myopathy atau kelemahan otot. Kondisi ini biasanya mempengaruhi otot-otot proksimal, yaitu otot besar di sekitar paha dan pinggul.

Kelemahan ini dapat membuat pasien kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari yang melibatkan kekuatan otot tersebut, seperti berdiri dari posisi duduk, menaiki tangga, atau berjalan. Kelemahan ini terjadi karena deksametason dapat mempengaruhi metabolisme protein dan fungsi serat otot, sehingga memerlukan pengawasan medis.

Efek Samping Penghentian Mendadak

Efek samping ini adalah risiko yang terkait dengan dosis dexamethasone dan pengelolaannya, bukan efek obat itu sendiri.

Setelah penghentian mendadak tubuh tidak dapat memproduksi kortisol alami dengan cukup cepat setelah obat dexamethasone dihentikan. Gejalanya dapat berupa mual dan muntah parah, kelelahan ekstrem, pusing, nyeri perut, dan tekanan darah yang sangat rendah (syok). Ini adalah keadaan darurat medis yang memerlukan penanganan kortikosteroid segera.

Jadi, meskipun dexamethasone obat apa pun bentuknya memberikan relief cepat, risiko efek samping dexamethasone jangka panjang menuntut pemakaian sependek mungkin dengan dosis dexamethasone seefektif mungkin.

Interaksi dan Pertimbangan Khusus saat Menggunakan Dexamethasone

Efek Samping Dexamethasone

Memahami dexamethasone obat apa juga berarti memahami bagaimana ia berinteraksi dengan obat dan kondisi lain.

Sebagai kortikosteroid yang kuat, dexamethasone dapat mempengaruhi efektivitas banyak obat lain, mulai dari pengencer darah hingga obat diabetes, dan sebaliknya. Nggak hanya itu, penggunaannya dapat memperburuk kondisi medis tertentu yang sudah ada, seperti infeksi jamur, penyakit jantung, atau masalah kesehatan yang lainnya.

So, sangat penting bagi pasien untuk selalu memberi tahu dokter mengenai semua obat, suplemen, serta riwayat kesehatan lengkap sebelum memulai terapi dexamethasone guna menghindari interaksi berbahaya dan komplikasi yang tidak diinginkan.

Interaksi Obat Yang Harus Diperhatikan

  • NSAID (Obat Anti-radang Non-Steroid): Kombinasi dexamethasone dengan NSAID (seperti ibuprofen atau aspirin) meningkatkan risiko iritasi serta pendarahan di lambung yang parah.
  • Obat Anti Diabetes: Karena dexamethasone meningkatkan gula darah, pasien diabetes mungkin perlu penyesuaian dosis dexamethasone atau dosis insulin atau obat oral mereka.
  • Vaksin: Vaksin hidup (misalnya, MMR, cacar air, rotavirus) tidak boleh diberikan saat pasien menggunakan obat dexamethasone dosis tinggi karena respons imun akan ditekan, membuat vaksin tidak efektif atau bahkan berbahaya.
  • Obat Jantung (Digoxin): Dexamethasone dapat menyebabkan kehilangan kalium, yang meningkatkan toksisitas obat jantung seperti Digoxin.

Dexamethasone pada Kehamilan dan Menyusui

  • Kehamilan: Dexamethasone atau kortikosteroid lain sering diberikan kepada wanita hamil yang berisiko melahirkan prematur. Injeksi dosis dexamethasone ini diberikan untuk mempercepat pematangan paru-paru janin (biasanya pada usia kehamilan 24 sampai 34 minggu), yang merupakan manfaat dexamethasone yang menyelamatkan nyawa bayi. Namun, penggunaan kronis pada kehamilan harus dipantau ketat.
  • Menyusui: Sejumlah kecil dexamethasone dapat masuk ke ASI. Dokter akan menimbang manfaat dexamethasone bagi ibu versus potensi risiko bagi bayi.

Penggunaan pada Anak-Anak

Dexamethasone adalah penyelamat bagi anak-anak dengan croup (radang saluran napas atas) atau asma berat. Namun, penggunaan dosis dexamethasone jangka panjang pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan. Dokter harus memantau pertumbuhan anak secara berkala.

Tips dan Trik Aman Menggunakan Dexamethasone

Tips Aman Menggunakan Dexamethasone

Buat kalian yang sedang melakukan terapi dengan obat ini, berikut ini tips untuk memaksimalkan manfaat dexamethasone dan meminimalkan risiko efek samping dexamethasone, berikut tipsnya:

Ikuti Dosis Dexamethasone dengan Disiplin

  • Patuhi Jadwal: Jika dokter meresepkan 4 mg dua kali sehari, ikuti persis jangan coba-coba menambah atau mengurangi dosis tanpa resep dokter.
  • Jangan Double Dosis: Jika lupa, jangan menggandakan dosis dexamethasone berikutnya. Hubungi dokter atau apoteker untuk diberikan solusi yang tepat.
  • Jangan Berhenti Tiba-tiba: Ingat, tapering off wajib dilakukan setelah penggunaan lama.

Lindungi Tubuh dari Efek Samping

  • Jaga Berat Badan: Lakukan olahraga teratur dan ikuti diet rendah garam, gula untuk mengurangi kenaikan berat badan dan meminimalkan risiko diabetes yang diinduksi oleh dexamethasone.
  • Lindungi Tulang: Pastikan asupan kalsium dan Vitamin D kalian cukup. Konsultasikan dengan dokter tentang suplemen tulang yang aman dikonsumsi.
  • Perlindungan Lambung: Minum obat dexamethasone bersama makanan atau susu untuk mengurangi iritasi lambung. Gunakan obat pelindung lambung jika diresepkan.

Komunikasi dengan Dokter

Selalu tanyakan: "Kapan saya bisa mulai menurunkan dosis dexamethasone ini?" Jangan lupa juga laporkan setiap efek samping, tidak peduli seberapa kecil. Jika kalian mengalami perubahan mood yang parah atau kesulitan tidur, dokter mungkin bisa menyesuaikan dosis dexamethasone atau waktu minum obat.

Jadi gimana udah tahu kan obat dexamethasone itu apa? Dexamethasone adalah obat yang luar biasa; ia adalah penyelamat dalam keadaan darurat medis dan pengontrol penyakit kronis yang kuat. Kehebatannya terletak pada kemampuannya menenangkan sistem kekebalan tubuh yang mengamuk dan memadamkan peradangan.

Penggunaannya harus selalu berada di bawah pengawasan ketat dokter. Jangan pernah menganggap obat dexamethasone sebagai solusi cepat untuk masalah sepele. Gunakan dengan bijak, patuhi anjuran dokter, dan kalian akan mendapatkan manfaat optimal dari pahlawan medis ini.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Jenis obat kortikosteroid glukokortikoid sintetik yang dikenal sangat kuat. Kegunaan utamanya adalah sebagai agen anti-inflamasi (anti radang) yang dahsyat dan imunosupresan (penekan kekebalan). Dexamethasone sering diresepkan untuk mengatasi alergi parah, pembengkakan, penyakit autoimun, hingga kondisi peradangan paru-paru seperti asma akut, karena manfaat dexamethasone yang cepat meredakan peradangan.

Manfaat dexamethasone sangat luas. Selain meredakan alergi dan radang sendi, dexamethasone juga penting dalam neurologi (mengurangi pembengkakan otak akibat tumor atau cedera) dan onkologi (mengurangi mual akibat kemoterapi dan mengobati kanker darah tertentu). Obat dexamethasone ini bertindak cepat dalam kondisi-kondisi kritis tersebut.

Menghentikan dosis dexamethasone secara tiba-tiba setelah penggunaan lebih dari 7 sampai 10 hari sangat berbahaya. Penghentian mendadak bisa memicu Krisis Adrenal (kekurangan hormon kortisol) yang mengancam jiwa. Dokter akan selalu menyarankan proses Tapering Off untuk meminimalkan risiko ini dan merupakan pencegahan terhadap efek samping dexamethasone yang ditimbulkan oleh ketidakpatuhan.

Yang umum adalah peningkatan nafsu makan, insomnia, perubahan suasana hati, dan peningkatan gula darah. Jika digunakan dalam dosis dexamethasone tinggi untuk waktu lama, risiko serius termasuk Sindrom Cushing, Osteoporosis, dan peningkatan risiko katarak serta glaukoma.

Disarankan untuk selalu meminum obat dexamethasone bersama makanan atau susu. Selain itu, jika kalian memiliki riwayat masalah lambung atau mengonsumsi dosis dexamethasone tinggi, dokter mungkin akan meresepkan obat pelindung lambung (seperti omeprazole) untuk melindungi lapisan perut.

Dexamethasone obat apapun bentuknya bukanlah obat bebas. Dosis dexamethasone harus selalu ditentukan dan diberikan melalui resep dokter karena potensi dan kekuatannya yang tinggi. Penggunaan tanpa pengawasan dapat menyebabkan efek samping dexamethasone serius dan berbahaya, termasuk penyalahgunaan yang bisa memicu krisis adrenal.